Mengapa Jerapah Berleher Panjang?
(Dongeng Pengantar Tidur Untuk Anak)
Oleh: Ari Susanah, S.Pd
Malam hari
seusai belajar bersama Ayah, Mumtaz ditemani Purmiaow kucing kecilnya, mewarnai
sebuah gambar binatang. Binatang itu adalah Jerapah. Jerapah adalah binatang
mamalia yang banyak hidup di hutan Afrika. Warna bulunya kuning dan ada sedikit
totol-totol kecoklatan menambah identik warna Jerapah, sehingga jadi mudah
untuk diingat. Lehernya panjang dan kakinya menjuntai kecil dan tinggi. Badanya
juga tinggi dan ramping. Jerapah bukan binatang buas, ia ramah dan bersahabat.
Dia suka sekali makan pucuk daun pohon yang masih muda dan tinggi.
“Kayaknya mah
nggak ada Jerapah yang obesitas, hihihi” tawa Mumtaz sambi terus mewarnai.
Tak lama
kemudian setelah selesai mewarnai,
Ibunya datang membawakan susu hangat untuk
anaknya minum sebelum tidur. Setelah minum susu, Ibu menyuruh Mumtaz
untuk gosok gigi dan pergi tidur. Sejak menginjak bangku sekolah TK A, Mumtaz
sudah belajar untuk tidur sendiri, tapi sekarang dia tidur ditemani Mpurmiaow kucing kecilnya.
Mpurmiaow tidur di atas kardus yang sudah majikannya siapkan berlapis selimut
bekas adik bayi sang majikan yang
ditaruh di bawah meja belajar di dalam kamarnya. Kadang dia tidur di
bawah kaki majikannya.
Tapi malam ini
sepertinya Mumtaz tidak bisa langsung
memejamkan mata. Biasanya kalau nggak bisa
tidur Mumtaz langsung ke kamar ibunya,
minta untuk didongengin sebuah
cerita. Setelah itu kalau Mumtaz sudah tidur baru Ayah akan menggendongnya ke
kamar yang sudah disediakan untuknya.
“Bu, Aa nggak
bisa bobo, ceritain dong bu?” rengek Mumtaz pada Ibunya.
“Ehmm emang
baru jam setengah sembilan sih!”. Jawab Ibu kemudian. “Aa ngapalin ngaji aja ya?”
“Udah Bu, Aa
udah ngapalin ngaji, Aa pengin didongengin tentang Jerapah, ada nggak dongeng
Jerapah?” Pintanya manja.
Ibu biasa pandai membuat dongeng, topik apa saja
bisa jadi dongeng yang menarik sebagai pengantar tidur anak-anaknya. Meski cuma
dongeng pengantar tidur, namun banyak sekali pelajaran berharga dan nasehat
yang bisa aku ingat. Anak-anaknya akan merekamnya sebagai pelajaran berharga
dalam hidup mereka.
“Ehmmm,
sebentar ya, biar Dedek bayinya bobo dulu, Aa di sini aja dulu bobonya di
sebelah Ibu.” Kata ibu dengan pelan.
Mumtazpun
mengangguk senang. Adik bayinya masih menyusu pada Ibu, sehingga bobonya pun
tidak terpisah dari Ibu. Apalagi setelah seharian bersama Mbah Kamti, Ibu jadi
tidak tega meninggalkannya dalam tempat tidur Box bayinya. Dan setelah Adik
bayi terlihat pulas, kemudian Ibu memulai ceritanya.
Judulnya
adalah “Mengapa Jerapah Berleher Panjang?”
Pada zaman
dahulu kala, ketika hutan belantara masih sangat lebat, hiduplah empat sahabat.
Mereka adalah Jerapah, Monyet, Rusa, dan Kerbau. Mereka saling membantu satu
sama lain. Mereka selalu mencari makan bersama-sama.
Dahulunya
leher Jerapah tidaklah sepanjang sekarang. Setiap kali mencari makan Jerapah
selalu mengalah dan mendahulukan sahabatnya Monyet, Rusa, dan Kerbau. Setiap
kali mau memakan rumput yang ada di atas daratan, atau padang rumput selalu
saja Jerapah dan Kerbau kalah cepat dengan ketangkasan Rusa. Dan setiap kali
Jerapah ingin memakan daun-daun yang rendah Kerbau sudah melahapnya terlebih
dahulu, karena tubuh Jerapah yang lebih tinggi dari Kerbau. Sehingga Monyet
yang cerewet selalu memanggil Jerapah dan Kerbau dengan “Si Lamban kurus”, dan
“Si lamban Gemuk”. Sementara Rusa adalah hewan yang paling gesit dari mereka Monyet memanggilnya
dengan sebutan “Si Gesit”.
Namun Jerapah
tidak berputus asa, dia tetap berusaha meraih dedaunan di pucuk ranting yang
tinggi. Dia justru menjadi lebih bahagia, karena ketika mendongakkan kepalanya
lebih tinggi, dia bisa melihat dataran hutan yang rimbun, lebat, dan indah.
Selain itu pucuk-pucuk dedauanan muda sangat segar sekali untuk dimakan. Daun muda
yang segar sangat bervitamin, sehingga mempertajam penglihatan Jerapah. Jerapah
semakin suka mendonngakkan kepalanya ke atas untuk mencari pucuk dedaunan yang
muda, segar, dan hijau.
Mendengar
sebutan “Si Lamban Kurus, Jerapah tidaklah marah, dia tetap saja tenang dan
diam. Tapi Kerbau membalas ejekan monyet dengan menyebutnya “Si Monyet Cerewet”
karena dia merasa tidak selamban yang monyet pikir. Mereka saling mengejek dan
saling tertawa dengan ejekannya masing-masing. Tidak ada yang bertengkar maupun
marah.
Semakin hari
leher Jerapah semakin tinggi, bahkan panjang lehernya hampir sama dengan tinggi
ke empat kakinya. Monyet yang cerewet pun tidak bisa diam. Dia sebut Jerapah
“Si Lamban Leher Panjang”. Rusa yang mendengarnya menasehati Monyet agar tidak
mengejek teman-temannnya lagi. Karena semua ciptaan Tuhan pasti ada tujuannya.
kita tidak boleh saling mengejek.
Suatu pagi
ketika ketika semua binatang di hutan sedang bersantai, tiba-tiba dari kejauhan
padang sabana nampak segerombolan Singa sedang menuju hutan. Semua binataang
tidak menyadari kedatangan Singa-singa lapar tersebut. Kecuali Jerapah yang berleher panjang, dia melihat
Singa-Singa buas sedang berjalan sudah sampai tepian hutan.
“Teman-teman,
aku melihat Singa dan keluarganya sedang menuju kemari!” Teriaknya.
“Cepat kita
lari bawa anak-anak kita untuk menyelamatkan diri!”. Katanya melanjutkan.
Semua binatang
dan keluarganya lari menyelamatkan diri. Kecuali “Si Monyet Cerewet” dia merasa
sudah pasti bisa menyelamatkan diri dari singa. Dia mengandalkan kelincahan
tangannya menggapai ranting-ranting pepohon yang tinggi. Lagi pula dia berpikir
Singa tidak akan mampu memanjat pohon yang tinggi. Dia berpikir dia tidak
selamban Jerapah, tiba-tiba dia menyombongkan dirinya, karena merasa lebih hebat
dari teman-temannya.
“Silakan saja
semua lari sembunyi, Singa tidak akan memakanku karena dia tidak suka daging
monyet spertiku,” Katanya sambil tertawa.
Dengan sekejap
suasana hutan menjadi sepi, hanya terdengar suara-suara serangga, Tonggeret dan
Jangkrik. Si Singa jantan tiba-tiba
menggeram kencang sekali. Monyet yang sembunyi di balik dedaunan terkejut dan
jatuh.
“Brakkk
bugggg....!!!
“Ampun-ampun!!”.
Teriaknya pada Singa.
“Ehmmm Monyet,
tunjukkan kemana binatang-binatang lainnya bersembunyi atau akan aku makan
dirimu?!” kata Si Singa Jantan sambil terus menggeram.
“Mereka sudah
berlari ke arah sungai Tuan Singa,”. Kata Si Monyet sambil gemetar dan
ketakutan menunjuk kearah sungai.
“Tak ada
gunanya makan daging monyet Ayah,” kata singa kecil yang berdiri di belakang
singa jantan.
Kemudian singa
betina maju selangkanh mendekati Si Singa Jantan dan berbisik “Kita lepaskan
saja monyet ini, coba dia akan lari menuju ke arah mana, pasti dia akan lari
menyusul ke arah binatang-binatang itu sembunyi”. Bisik Si Singa Betina.
“Hmmm betul
juga idemu,” sahut Si Singa Jantan sambil mengernyitkan alis matanyanya yang
tebal.
“Baiklah Monyet, kamu akan aku bebaskan, tapi
kamu tidak boleh ada di ssekitar sini!” Kata Si Singa Jantan sambil berteriak.
“Tttttrimaksih
Tuan Singa” jawab monyet ketakutan.
Monyet
langsung berlari kearah sungai seperti dugaannya. Dia ingin menyusul
teman-temannya, dan binatang-binatang yanng lainnya.
Namun ternyata
dugaannya meleset. Karena Jerapah dan binatang lainnya berlari menuju arah
barat berlawanan dengan arah sungai seperti dugaan monyet. Tujuan mereka memang
tak tentu arah, mereka hanya mengandalkan cahaya matahari yang mulai condong ke
barat. Mereka percaya dengan pandangan Jerapah. Mereka baru berhenti berlari
setelah matahari terbenam karena hari mulai malam dan gelap karena sudah tidak
ada cahaya matahari lagi.
Sementara
singa-singa lapar terus mengikuti Si Monyet sombong. Monyet berlari sambil
menangis mencari teman-temannya hingga tidak diketahui lagi nasibnya. Mumngkin
akhirnya si Monyet termakan oleh Keluarga Singa yang kelaparan.
Dan akhirnya semua
binatang-binatang yang berhasil lolos dari terkaman singa-singa lapar
mengucapkan terimkasih kepada Jerapah. Tidak lupa Rusa dan Kerbau, mereka juga
meminta maaf telah ikut mengejek Jerapah. Ternyata leher Jerapah yang panjang
adalah anugerah dari Tuhan karena kebaikan hatinya, sehingga bermanfaat untuk
menyelamatkan binatang-binatang dari marabahaya.
Ibu mengakhiri
ceritanya, dan melihat ke arah anaknya yang sudah terlihat pulas.
Dibisikannyanya doa-doa kebaikan untuk mereka. Tak lama kemudian ayah masuk,
dan menggendong Mumtaz ke kamarnya. Dalam usianya yang mulai menginjak tahun
ke-6 memang sudah seharusnya untuk mulai tidur di kamar sendiri. Itulah
pendidikkan untuk anak seusia Mumtaz.
Terimakasih
Biodata
Penulis